FILSAFAT MENURUT PARA TOKOH MUSLIM Rike Dias Safitri Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang e-mail : rikedias24@gmail.com Abstrak : Filsafat secara sederhana berati cinta pada pengetahuan atau kebijaksanaan. Pengertian cinta yang dimaksud adalah dalam arti, yaitu ingin dan dengan rasa keinginan itulah ia berusaha mencapai atau mendalami hal yang diinginkan. Secara ringkas dapat dikatakan, Filsafat adalah hasil proses berfikir rasional dalam mencari hakikat sesuatu secara sistematis, menyeluruh (universal), dan mendasar (radikal). Filsafat menurut para tokoh muslim dibagi menjadi 5 yang mempunyai pendapat berbeda beda mengenai pemikiran filsafat. Tokoh-tokoh tersebut adalah (1) Al Kindi, (2) Al Farabi (3) Ibnu Sina (4) Al Ghazali (6) Ibn Rusyd. Filsafat Islam hanya dinisbatkan pada filsuf muslim, dengan demikian para tokoh filsuf muslim mempunyai karya masing masing yang berbeda, dimana sampai saat ini karya dari para tokoh filsuf muslim sangat bermanfaat bagi kehidupan, contoh saja Ibn Sina adalah tokoh yang terkenal dengan ilmu kedokterannya, Dengan demikian filsafat Islam dalam perkembangannya menjadi lebih mandiri dalam berfikir tentang sesuatu, ia dapat berkembang dengan subur, memiliki ciri khas dan tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran pokok Islam, walaupun secara umum disadari pula bahwa kebanyakan obyek pembahasannya sama, yaitu soal Tuhan, manusia (mikro kosmos), dan alam (makro kosmos). Kata Kunci : Filsafat Tokoh Muslim dan Karya Tokoh Muslim Sejarah mencatat bahwa islam pernah memiliki masa kejayaan, yang disebut dengan masa keemasan islam (goldn age). Fase ini, islam memiliki kejayaan intelektual. Kejayaan pada waktu itu tidak terlepas dari tokoh-tokoh filsufnya yang memiliki pengaruh pemikiran dan pandangan luas. Filsuf muslim yang dimaksud antara lain; Al- Kindi, Al-Farabi, Al- Razi, Al- Gazali, Ibnu Sina, Al- Khuarizmi, Ibnu Rusyd dan lain-lain. beberapa diantara mereka hidup pada abad yang sama, menjadi pelopor dan penggerab peradaaban dan kejayaan islam dengan sumbangsih pemikiran mereka. Kejayaan islam waktu itu teletak di Timur Tengan (Arab). Lebih tepatnya pada era dinasti Abasiyah. Sejarah ini diabadikan dalam buku-buku sejarah. Seperti yang dituliskan dalam beberapa buku sejarah bahwa ketika orang arab menyerbu kerajaan Persia dan Byzantium, mereka memberlakukan bahasa dan agama mereka kepada bangsa taklukanya. Akan tetapi , pengaruhnya dalam dua arah. Ketia orang arab memasuki tradisi wacana filosofis yunani, Yahudi, dan Kristen, dan mereka mulai mengembangkan suatu tradisi mereka sendiri yang mirip denganya. Islam berpusat di Bagdad, dan bahasa Arab menjadi bahasa ilmiah di mana-mana. Selama periode sekitar 750 sampai 900 Masehi, banyak karya yunani yang di terjemahkan ke bahasa arab termasuk karya-karya tertentu dan bagian-bagian tertentu karya Plato, Aristoteles, dan Plotinus. Tertarik pada karya-karya ini, pada sarjana Arab mengembangkan kosa kata bahasa Arabnya. Istilah-istilah tertentu lansung diubah bentuk dari bahasa Yunani, Termasuk Falsafah pengubahan bentuk dari istilah Yunani, Philosophia. Seperti Aristoteles, para Filsuf Arab mencoba menyistematisasi semua pengetahuan, termasuk apa yang mereka pelajari dari tradisi Yunani. Yang pertama diagenda filosofis tradisi Arab yang masih muda itu adalah menetapkan peran akal budi dalam mengetahui kebenaran, khususnya bila dibandingkan dengan wahyu. Sebuah tradisi para filsuf yang mencoba membawa ajaran-ajaran para filsuf Yunani yang berhubungan dengan maslah-masalah ini, yang kemudian dikenal sebagai tradisi peripatetic karena kepercayaan mereka yang kuat pada Aristoteles, yang para pengikutnya disebut “peripatetik” karena biasanya berjalan sambil mengajar. Akan tetapi, beberapa filsuf pereipatetik juga sangat dipengaruhi oleh Plotinus, akibatnya penafsiran mereka terhadap Aristoteles kerap dikembangkan dalam kerangka emanasi-emanasi, Solomon & Higgins (2000:245-246). Seperti yang diuraikan di atas perlu dietahui bahwa, Pemikiran-pemikiran filsuf timur banyak memberikan sumbangsih pada peradaban modern. Tidak hanya itu dalam perkembangan ilmu pengetahuan filsuf muslim banyak menyumbangkan pemikiran-pemikiran. mengenai filsafat pada filsuf muslim dikenal sebagai “Filsafat Islam”.Tokoh filsuf muslim yang pertama kali menyumbangkan pemikirannya tentang filsafat adalah Al-Kindi. Tidak hanya Al-Kindi, terdapat beberapa tokoh besar Islam yang ikut memberikan pemikirannya dan mengkaji ilmu filsafat. Tokoh-tokoh tersebut adalah Al-Farabi, Al-Razi, Al-Gazali, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd. Para filosof Muslim banyak mengambil pemikiran Aristoteles, Plato, maupun Plotinus, sehingga banyak teori-teori filosof Yunani diambil oleh filosof Muslim. Pengaruh filsafat Yunani inilah yang menjadi pangkal kontraversi sekitar masalah filsafat dalam Islam. Sejauh mana Islam mengizinkan masukan dari luar, khususnya jika datang dari kalangan yang bukan saja Ahl al-kitab seperti Yahudi dan Kristen, tetapi juga dari orang-orang Yunani yang “pagan” atau musyrik (penyembah bintang). Dengan demikian filsafat Islam dalam perkembangannya menjadi lebih mandiri dalam berfikir tentang sesuatu, ia dapat berkembang dengan subur, memiliki ciri khas dan tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran pokok Islam, walaupun secara umum disadari pula bahwa kebanyakan obyek pembahasannya sama, yaitu soal Tuhan, manusia (mikro kosmos), dan alam (makro kosmos). PEMIKIRAN PARA FILSUF MUSLIM 1. Al-Kindi (795-873 M) Nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Ya’qub Khufah. Ia berasal dari keturunan bangsawan Arab dari Kindah di Arab Selatan. Orang tuanya adalah seorang gubernur di Basrah pada masa pemerintahan Al-Mahdi dan Harun Al-Rasyid.[ Ibid., hlm. 167] Al-Kindi dilahirkan di Kufah sekitar tahun 185 H (801 M) dari keluarga kaya dan terhormat. Kakek buyutnya, Al-Asy’as ibnu Qais, adalah seorang sahabat Nabi Muhammad Saw.[ Sirajuddin, op., cit., hlm. 37] Al-Kindi mengalami kemajuan pikiran Islam dari penerjemahan buku-buku asing kedalam bahasa Arab, bahkan ia termasuk pelopornya. Bermacam-macam ilmu telah dikajinya, terutama filsafat. Dalam suasana yang penuh pertentangan agama dan mazhab, dan yang dibanjiri oleh paham golongan Mu’tazilah serta ajaran-ajaran syi’ah. Al-Kindi adalah orang pertama yang memasukkan kajian filsafat sebagai salah satu ilmu keislaman.[ Syadali, op., cit., hlm. 166] Ia penganut aliran Mu’tazilah dan kemudian belajar filsafat. Bagi Al-Kindi orang yang menolak filsafat berarti mengingkari kebenaran, dan dapat dikelompokkan kafir, karena orang tersebut telah jauh dari kebenaran.[ Jalil, op., cit., hlm. 144] Tentang kapan Al-Kindi meninggal tidak ada suatu keteranganpun yang pasti. Mustafa ‘Abd Al-Raziq cenderung mengatakan tahun wafatnya adalah 252 H, sedangkan Massignon menunjuk tahun 260 H [ Sirajuddin, op., cit., hlm. 41]. Ia meninggal pada tahun 873 M di Baghdad [ Syadali, op., cit., hal. 166]. 2. Al-Farabi (870-950 M) Nama lengkap Al-Farabi adalah Abu nashr Muhammad bin Muhammad bin Tharkhan Al-Farabi. Sebutan Al-Farabi diambil dari nama kampung kelahirannya Al-Farabi.[ Syadali, op., cit., hlm. 167] Ia dilahirkan di Wasij, Distrik Farab, Turkistan pada tahun 257 H/870 M.[ Sirajuddin, op., cit hlm. 65] Sejak kecil Al-Farabi suka belajar dan ia mempunyai kecakapan luar biasa dalam bidang bahasa. Bahkan yang dikuasainya antara lain bahasa Iran. Namun ia tidak mengenal bahasa Yunani dan Suryani, yaitu bahasa-bahasa ilmu pengetahuan dan filsafat pada waktu itu. Al-Farabi dalam dunia Islam mendapat kehormatan dengan julukan al-Mu’allim al-Sany (Guru Kedua).[ Abdul Hakim, op., cit., hlm. 4362] Pada tahun 330 H (941 M) ia pindah dan menetap di Damsyik sampai wafatnya pada tahun 337 H (950 M). 3. Ibnu Sina (980-1037 M) Nama lengkap Ibnu Sina ialah Abu Ali Husain Ibnu Abdillah Ibnu Sina. Di Barat lebih dikenal dengan nama Avicenna.[ Syadali, op., cit., hlm. 173] Ibnu Sina dilahirkan di Afsyana dekat Bukhara pada tahun 980 M dan meninggal dunia pada tahun 1037 M dalam usia 58 tahun. Jasadnya dikebumikan di Hamadzan.[ Sirajuddin, op., cit., hlm. 91] Ia dikenal sebagai ahli filsafat dan ahli kedokteran. Dalam bidang filsafat ia menulis dalam bukunya yaitu: logika, ilmu alam, ilmu pasti dan ilmu ilmu ketuhanan. Dalam bidang kedokteran yang berjudul Al-qur’an. 4. Al-Ghazali (1058-1111 M) Al-Ghazali bernama lengkap Abu Hamid Muhammad Ibnu Ahmad Al-Ghazali Al-Thusi. Ia dilahirkan pada tahun 450 H/1058 M di Ghazal, Thus, Provinsi Khurasan, Republik Islam Iran.[ Ibid, hlm. 155] Al-Ghazali diberi gelar kehormatan dengan Hujjat al-Islam karena pembelaannya yang mengagumkan terhadap agama Islam.[ Ibid, hlm. 158] Ia membela Islam dalam menolak orang-orang Nasrani, juga dalam serangannya terhadap kaum Batiniah dan kaum Filosof.[ Madkour, op., cit., hlm. 73] Menurut Al-Ghazali, Allah adalah satu-satunya sebab bagi alam. Alam Ia ciptakan dengan kehendak dan kekuasaan-Nya, karena kehendak Allah adalah sebab bagi segala yang ada, sedangkan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.[ Ibid, hlm. 75] Ia meninggal dunia pada tahun 1111 M dalam usia 54 tahun di Naisabur.[ Syadali, op., cit., hlm. 180] 5. Ibnu Rusyd (1126-1198 M) Nama lengkap Ibnu Rusyd ialah Abu Ahmad ibnu Muhammad ibnu Rusyd. Ia dilahirkan pada tahun 510 H/1126 M di Cordova, Andulus sekitar 15 tahun wafatnya Al-Ghazali. Orang barat menyebutnya dengan nama Averrois.[ Ibid, hlm. 221] Suatu hal yang sangat mengagumkan ialah hampir seluruh hidupnya ia pergunakan untuk belajar dan membaca.[ Ibid, hlm. 222] Di masa mudanya Ibnu Rusyd belajar Teologi Islam, hukum Islam, ilmu kedokteran, matematika, astronomi, sastra dan filsafat. Pada tahun 1169 M. Ia diangkat menjadi hakim di Seville dan pada tahun 1182 M hakim di cordova.[ Syadali, op., cit., hlm. 183] KARYA KARYA yang DIHASILKAN OLEH PARA FILSUF MUSLIM 1. Karya-Karya Al-Kindi Menurut Al-Kindi filsafat ialah ilmu tentang hakikat (kebenaran). Sesuatu menurut kesanggupan manusia, ilmu ketuhanan, ilmu keesaan, ilmu keutamaan, ilmu tentang semua yang berguna dan cara memperolehnya serta cara menjauhi perkara-perkara yang merugikan. Dalam pemikiran filosufisnya Al-Kindi banyak dipengaruhi oleh Aristoteles, Plato, dan neo-Plationisme. Diantara hasil karyanya yang terkenal adalah Hallmuth Rittter.[ Ibid., hlm. 166-167] Al-Kindi berpendapat bahwa alam itu temporal dan berkomposisi, yang karenanya ia membutuhkan Pencipta yang menciptakannya.[ Ibrahim Madkour, Aliran dan Teori Filsafat Islam, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2002), cet. II, hlm. 118] Ia membagi filsafat kepada tiga bagian, yaitu (1) thibiyyat, sebagai tingkat yang paling bawah; (2) al-ilm ar-riyadhi, sabagai tingkatan tengah-tengah; (3) ilm ar-rububiyyah, sebagai tingkatan yang paling tinggi. [ Atang Abdul Hakim, Filsafat Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm. 436]. 2. Karya-Karya Al-Farabi Ia mendefinisikan filsafat sebagai ilmu yang menyelidiki hakikat sebenarnya dari segala yang ada. Pokok filsafat politik kenegaaan Al-Farabi ialah autokrasi.[ Syadali, op., cit., hlm. 69] Mengenai pengertian filsafat, ia mengatakan bahwa filsafat adalah mengetahui semua yang wujud karena ia wujud.[ Abdul Hakim, op., cit., hlm. 436] Menurut Al-Farabi Tuhan tidak mengetahui yang particular artinya Pengetahuan Tuhan tentang yang rinci tidak sama dengan pengetahuan manusia, Tuhan dapat menangkap yang universal. Pengetahuannya yang paticular tidak secara langsung, melainkan ia sebagai sebab bagi yang particular. [Mat Jalil, op., cit., hlm. 154-155]. Berikut ini karangan Al-Farabi ialah: 1) Tahsil As-Sa’adah 2) ‘Ujunul-Masail 3) Ara-u Ahlil-Madinah Al-Fadhilah 4) Ih-Sa’u Al-Ulum 5) Al-Jam’u baina Ra-jai Al-Hakimaini 6) Aghradhu Ma Ba’da Ra-Jai Al-Hakimaini 3. Karya-Karya Ibnu Sina Sebagai filosuf muslim ia berusaha mendekatkan jarak antara teori filsafat dan dalil agama. Menurutnya bahwa banyak dari hasil pemikiran filsafat yang sesuai dengan prinsip dengan prinsip agama. Ibnu Sina mengatakan bahwa Tuhan itu adalah Al-Aqlu(akal). Ia memikirkan diri-Nya lalu melikirkan sesuatu di luar dirinya menyebabkan timbulnya akal lain yang dinamakan Akal Pertama [ Syadali, op., cit., hlm. 175]. Bagi Ibnu Sina, Allah adalah sesuatu yang harus ada dengan sendirinya, tidak ada sesuatu apapun juga yang menyekutui-Nya dalam substansi-Nya, karena Ia tidak memiliki tandingan maupun lawan, genus diferensia maupun batasan. Ibnu Sina walaupun sibuk bekerja dalam pemerintahan, namun ia adalah seorang penulis yang luar biasa produktif sehingga ia tidak sedikit meninggalkan karya tulis yang sangat besar pengaruhnya baik di dunia Barat maupun di dunia Timur. Di antaranya adalah:[ Sirajuddin, op., cit., hlm. 94] 1) Al-Syifa’ 2) Al-Najat 3) Al-Qanun fi al-Thibb 4) Al-Isyarat wa al-Tanbihat 4. Karya-Karya Al-Ghazali Al-Ghazali sangat aktif dan disiplin dalam memberikan kuliah dalam bidang fiqh madzab syafi’i. Dalam perjalanan hidup yang cukup singkat, Imam Ghazali banyak menyimpan rahasia yang terkandung dalam berbagai karya yang ditinggalkan. Karya-karya Al-Ghazali dipekirakan 300 Buah.[ Jalil, op., cit., hlm. 166] Dalam setiap tahun, ia menghasilkan karya tidak kurang dari 10 buah (kitab/buku) diantaranya sebagai berikut: 1) Ilmu kalam dan filsafat 2) Kelompok fiqh dan ushul fiqh 3) Kelompok tafsir 4) Kelompok ilmu tasawuf dan akhlak secara integral bahasanya.\ Di bawah ini beberapa wasiat dari karya ilmiahnya yang paling besar pengaruhnya terhadap pemikiran umat Islam.[ Sirajuddin, op., cit., hlm. 159] 1) Ihya’ Ulum al-Din 2) Al-Iqtishad fi al-I’tiqad 3) Maqasid al-Falasifat 4) Tahafut al-Falasifat 5) Mizan al-‘amal 5. Karya-Karya Ibnu Rusyd Menurut Ibnu Rusyd tugas filsafat ialah tidak lain dari berfikir tentang wujud untuk mengetahui pencipta semua yang ada ini. Dan Al-qur’an menyuruh supaya manusia berfikir tentang wujud dan alam sekitarnya untuk mengetahui Tuhan.[ Ibid, hlm. 184] Ibnu Rusyd adalah seorang ulama besar dan pengulas yang dalam terhadap filsafat Aristoteles. Karangannya meliputi berbagai ilmu, seperti fiqh, usul, bahasa, kedokteran, astronomi, politik, akhlak, dan filsafat. Tidak kurang dari sepuluh ribu lembar yang telah ditulisnya.karena sangat tinggi penghargaannya terhadap Aristoteles, tidak mengherankan kalau ia memberikan perhatian besar untuk mengulaskan dan meringkas filsafat Aristoteles. Buku-bukunya yang lebih penting dan yang sampai kepada kita ada empat:[ Abdul Hakim, op., cit., hlm. 504] 1) Bidayatul-Mujtahid, ilmu fiqh 2) Faslul-Maqalfi ma baina Al-Hikmati was-Syari’at min Al-Ittisal (ilmu kalam) 3) Manahij Al-Adillah fi Aqaidi Ahl Al-Millah (ilmu kalam) 4) Tahafur At-Tahafut Salah satu kelebihan karya tulisnya ialah gaya penuturan yang mencakup komentar, koreksi, dan opini sehingga karyanya lebih hidup dan tidak sekedar deskripsi belaka. Namun, amat disayangkan karangannya sulit ditemukan dan sekiranya ada sudah diterjemahkan orang ke dalam bahasa Latin dan Hebrew (Yahudi), bukan dalam bahasa aslinya (Arab). Ini semua akibat tragedi nista yang menimpa dirinya ketika diadili dan dibuang ke Lucena di mana buku-bukunya yang mengandung filsafat dimusnahkan. KESIMPULAN Filsafat merupakan suatu hal yang dipelajari untuk memperoleh suatu kebenaran. Dasar-dasar aqidah yang termaktub dalam Al Qur’an juga dianalisa dan dibahas lebih lanjut dengan filsafat untuk mendapatkan keyakinan yang kokoh. Ajaran filsafat berdasar akal fikiran manusia, sedangkan agama berdasarkan wahyu. Meskipun jalan yang ditempuh agama dan filsafat berbeda, namun tujannya sama yaitu mendapat kebenaran yang hakiki. Para filosof Muslim banyak mengambil pemikiran Aristoteles, Plato, maupun Plotinus, sehingga banyak teori-teori filosof Yunani diambil oleh filosof Muslim. filsuf muslim banyak menyumbangkan pemikiran-pemikiran. mengenai filsafat pada filsuf muslim dikenal sebagai “Filsafat Islam”.Tokoh filsuf muslim yang pertama kali menyumbangkan pemikirannya tentang filsafat adalah Al-Kindi. Tidak hanya Al-Kindi, terdapat beberapa tokoh besar Islam yang ikut memberikan pemikirannya dan mengkaji ilmu filsafat. Tokoh-tokoh tersebut adalah Al-Farabi, Al-Razi, Al-Gazali, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd. Para filosof Muslim banyak mengambil pemikiran Aristoteles, Plato, maupun Plotinus, sehingga banyak teori-teori filosof Yunani diambil oleh filosof Muslim. Pengaruh filsafat Yunani inilah yang menjadi pangkal kontraversi sekitar masalah filsafat dalam Islam. Sejauh mana Islam mengizinkan masukan dari luar, khususnya jika datang dari kalangan yang bukan saja Ahl al-kitab seperti Yahudi dan Kristen, tetapi juga dari orang-orang Yunani yang “pagan” atau musyrik (penyembah bintang). DAFTAR PUSTAKA Atang Abdul dan Beni Ahmad Saebani. (2008). Filsafat Umum. Pustaka Setia: Bandung. Jalil, Mat. Filsafat Umum Philosophi. Syadali, Ahmad dan Mudzakir. (2002). Filsafat Umum. Pustaka Setia: Bandung Madkour, Ibrahim. (2002). Aliran dan Teori Filsafat Islam. PT. Bumi Aksara: Jakarta Zar, Sirajuddin. (2010). Filsafat Islam, Filosof dan Filsafatnya. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta

Komentar